Kesenjangan Kesejahteraan Jabatan
Posted by oktasihotang on Thursday 22 Oct 2009Hohooo… sori - sori buat rekan - rekan yang udah nanyain lewat YM dan komen mengapa blog ini makin hari makin orangnya ganteng lama update nya. Sebenarnya banyak sekali yang ingin aku tulis di sini, banyak pengalaman, hasil pengamatan sehari - hari terhadap kehidupan sekitar (kayak BIN aja), dan pokoknya masih banyak lagi. Hanya saja ini yang menjadi kendala, yaitu waktuku emang lagi seret belakangan ini, masih sulit membagi waktu antara istri satu ke istri lainnya kerjaan yang sedang banyak - banyaknya.
Tapi don`t worry, aku akan berusaha membuat tulisan terbaik sepanjang hidupku diblog ini, xixixixiixiiii. Kali ini aku ingin bercerita tentang Kesenjangan Kesejahteraan Jabatan yang menurut pengalaman pribadiku sendiri sangat - sangat mencolok (aku ambil case di struktur swasta).
-00-
Bagi kau yang berprofesi menjadi apapun di sebuah perusahaan swasta, ntah itu sebagai marketing, HRD, sales, customer service, office boy/girl, atau sebagai programmer diswasta, pernah tidak sadar akan hal ini ?? (Kesenjangan Kesejahteraan Jabatan, red). Kalau dilihat dari segi jenjang pekerjaan sih masih masuk akal, misalkan orang untuk bisa menjadi OB, tidak perlu lulusan perguruan tinggi, jadi wajar dong kalau gajinya juga tidak gede - gede amat ??. Itu hal yg masih masuk akal dan masih bisa diterima akal sehat. Tapi coba pikirkan dan renungkan baik - baik !! Aku ambil case pekerjaan programmer (IT).
- SUDAH DIRENUNGKAN APA YANG AKU MAKSUD DENGAN KATA “Aku ambil case pekerjaan programmer (IT)??” -
Kata kasarnya, saat ini semua perusahaan sangat terbantu dengan adanya kemajuan teknologi informasi, sehingga saat ini kebutuhan akan pekerja programmer (staff IT) sangat banyak di perusahaan - perusahaan berkembang dan maju. Sehingga bisa dibayangkan tidak, jika kenyataannya pekerja IT itu tidak ada saat ini ?? Aku yakin pasti pekerjaan yang sedang berjalan di perusahaan manapun bakal mengalami penurunan performance-nya dan dengan sangat terpaksa harus memakai cara lama, manual dan memakan waktu lama. Kasarnya juga, pekerjaan marketing, HRD, CS dsb pasti akan mengalami kendala jika tidak ada pekerja IT (dalam hal ini pengembang aplikasi, programmer).
Jadi, selama kurang lebih 1 tahun aku bekerja di perusahaan sebagai programmer, aku melihat sangat miris sekali kondisi dimana kesenjangan programmer menjadi bulan - bulanan perbincangan diantara rekan - rekan sekantor, ada yang cerita gaji tidak sebanding dengan pekerjaan yang dikasih, ada bincang - bincang mengapa jika project closed tidak ada reward tapi kalau telat masuk kena punishment, dsb. Miris sekali memang. Aku pribadi aja mengalami itu saat ini. Seorang programmer memang jelas budak di company asing/swasta saat ini.
-00-
Pekerjaan yang diterima kebanyakan tidak sebanding dengan gaji yang dikasih. Pihak kantor gampang aja bilang “gue mau aplikasi ini cepat kelar..bla..bla..bla..” tanpa mikirkan seberapa berat pekerjaan itu,dsb. Kalau dirunut dari struktur yg ada memang seorang bawahan harus melaksanakan apa yang disuruh atasan, cuma sakitnya itu tidak sebanding dengan reward/bonus/gaji yg dikasih. Jelas memang sakit sekali men…
Sebenarnya orang IT yg smart bisa makmur jika dia pintar ngatur waktu, ngatur knowledges yg ada dengan tetap bekerja di kantor asal, terus ambil project sampingan. Cuman sebegitunya kah supaya bisa hidup makmur sebagai programmer ??, coba lihat pekerja marketing/finance/HRD, hanya duduk diam didepan komputer sambil FB-an, chat YM, twitter,dsb dengan beberapa pekerjaan yang menurutku pribadi tidak terlalu mengeluarkan isi otak sampai keluar otak tengahnya tapi gajinya lebih tinggi dari seorang programmer. Bandingkan dengan programmer, kerjanya ampe membuat bangku panas, otak tengah nyaris keluar karna memikirkan sebuah teknologi untuk mengembangkan/ membangun aplikasi tapi gajinya kecil, shiiiiiiiiieeeeet !!
-00-
Yeah, emang gak semua kesejahteraan pekerja IT atau bahkan semua pengamatan aku diatas benar, bahkan bisa jadi salah semua, dan bukan maksudku menuduh kalau pekerja ini itu salah dan aku yang benar. Intinya kembali lagi ke pribadi masing - masing, kalau adapun kesamanaan flow kehidupan yang aku ceritakan diatas, bukan maksudku untuk ngangkat dan menjelek - jelekkan keadaan yg saat ini terjadi. Tapi cobalah untuk menghargai pekerjaan PROGRAMMER, sebab tanpa ada programmer, maka semua aspek pekerjaan dikantor akan mengalami kendala. Jika ada pendapat lain, silahkan taruh upilnya disini….











