Jalan hidup yang berbeda - beda…

Posted by oktasihotang on Tuesday 2 Jun 2009

Huaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaapppp (:|
Pagi - pagi (subuh) gini enaknya minum susu anget, makan martabak isi ketan, ngepul asap sambil mantengin kumpulan dollar di paypal plus ngayal punya rumah gede, mobil mewah, keluarga yang bahagia dan istri yang baik hati…hihiiii ;))

-00-

Well, kali ini aku ingin berbagi pendapat yang menurut aku pasti banyak asumsi - asumsi yang berbeda dari rekan sekalian, apaan tuh Ta ?, yaps…bisa dibilang aku ingin share pemikiranku kepada rekan - rekan yang membaca blog ini mengenai pengemis. Pasti rekan sekalian udah gak asing lagi dengan kata pengemis, and wait..wait, plis don`t judge me bahwa aku merendahkan pengemis, no..no !?

Setiap pagi dan sore ketika aku bepergian ntah kemana dikota jakarta (karna aku dijakarta saat ini), mataku tak asing lagi dengan pemandangan banyaknya orang tua, anak - anak, setengah baya duduk di jembatan penyebrangan, duduk ditrotoar - trotoar jalan sambil menengadahkan tangan, ada yang sambil jalan ketempat - tempat makan selesehan yang ada dipinggir jalan, bahkan ada dari mereka yang langsung menghampiri rumah makan untuk “mengemis“. Jujur pertama x aku datang kejakarta ini, setiap aku melihat pengemis, hatiku miris sekali melihat keadaan mereka, namun setelah hampir 1 tahun dijakarta, aku merasa pengemis itu membuat pemadangan kota menjadi kurang sehat, kenapa Ta ??, yes…semakin banyaknya orang yang berprofesi (menurutku pengemis bisa dikatakan profesi) sebagai pengemis, maka semakin banyak orang menjadi malas, yang hanya berpedoman kepada pemberian orang, untung - untung hari itu mereka banyak mendapatkan “hibah” dari orang - orang yang lewat.

pengemis #1
*photo taken from here

Kenapa aku berpikir seperti orang yg tak berprikemanusiaan ??, here`re my answers :

  1. mereka adalah orang malas.
  2. mereka tidak mau berusaha dan gampang menyerah.
  3. mereka ingin membuat status kehidupan mereka jelek dimata orang dengan mengemis.
  4. mengemis sudah menjadi turunan dari keluarga, jadi bapak -> anak -> dan anaknya anak diajarin dan disuruh menjadi pengemis.
  5. mereka adalah penipu.

Coba bayangkan, dengan mereka duduk diatas jembatan penyebrangan dari pagi buta ampe malam hari, apakah mereka sudah dapat duit (”dengan gampang“) ??, yang ada malah mereka dicap masyarakat sebagai sampah, harga diri mereka menjadi jelek dan gampang diinjak-injak orang lain.

pengemis #2
*photo is taken from here, salah satu perusak keindahan daerah/kota

-00-

Tuhan menciptakan manusia (kita) dengan beragam kelebihan yang tidak dimiliki oleh makhluk ciptaanNya yang lain. Manusia diciptakan Tuhan dengan akal, pikiran, prilaku yang sangat jauh beda dengan hewan dan tumbuh - tumbuhan. Kita punya tangan, kaki, kepala, otak (pikiran), dan kekuatan yang bila dikombinasikan bisa menghasilkan hal yang bermanfaat dan pastinya dengan jalan halal dan bersih.

Coba kita berpikir, seandainya para pengemis berubah menjadi seperti ini :

  1. ibu - ibu menjadi tukang cuci pakaian, yang sebulannya bisa menghasilkan uang min >2,5jt/bulan, dengan rincian sebulan 150rb/orang x banyak orang, seminggu dia bisa mencuci pakaian orang 1-7 orang yang berbeda, dan tiap bulan dia bisa mengantongi uang min >2,5jt.
  2. bapak - bapak menjadi tukang penjual koran, pengumpul kaleng - kaleng bekas, kerja angkat barang dipasar dan bangunan.
  3. anak - anak bisa membantu orang tuanya dalam mencari uang tapi jangan dengan mengemis.

Oke, aku yakin diantara kalian pasti ada yang berpendapat, mereka terkena dampak PHK, mereka tidak punya sekolah, mereka tidak punya dana untuk buka usaha jualan kecil2an/home industry. Dan contoh diatas yang aku sebutkan adalah contoh pekerjaan yang tidak memerlukan dana banyak, pemikiran yang tinggi, dsb.

-00-

En da, yang lebih parahnya lagi, para pengemis sudah banyak yang menipu, contohnya adanya pembuatan adegan cacat, adanya organ tubuh mereka yang dibuat - buat berdarah seolah - olah cacat, akibat tabrakan, koreng - koreng gak jelas yang bertujuan bisa membuat orang - orang merasa simpatik terhadap mereka, dan yang terjadi lagi bahwa jika mereka punya uang hasil mengemis, mereka malah memakai uang itu untuk beli rokok, minum2an, bukan untuk keperluan pribadi yang primary.

Sorry klo aku berpendapat seperti diatas terhadap para pengemis, aku benar - benar melihat realita yang ada dengan mencoba berpikir kenapa mereka harus mengemis ?, kenapa mereka tidak kerja menjadi tukang cuci, dsb yang lebih bermartabat ketimbang menjadi pengemis ??.

Memang sih, jalan setiap orang berbeda - beda, kita tidak bisa memaksa orang lain sejalan dengan pemikiran kita, namun sungguh indah jika setiap orang bisa berpikiran yang terbaik untuk kelangsungan hidup dengan tidak mencari jalan pintas dengan salah satunya menjadi pengemis. Dan mungkin untuk pemerintah perlu diperhatikan kembali mereka, mungkin bisa dibuat sebuah wadah penampungan atau semacamnya yang bisa diarahkan kepada pembentukan lapangan kerja kecil2an, seperti pembuatan kerajinan tangan, dsb sehingga orang tidak berpikiran dengan meminta - minta lagi. Jujur aku aja setengah mati mencari duit untuk bisa bertahan hidup dijakarta ini, kayak orang batak bilang : tarhona hulehan tuhalaki, apala iba pe dang mangan.

Maaf jika ada rekan - rekan yang membaca blog ini menjadi tersungging, atau mungkin ada pengemis yang membaca blog ini juga, aku minta maaf atas pemikiranku itu, namun cobalah untuk lebih berusaha dalam hidup, jangan gampang menyerah, jangan dengan gampangnya ingin menjadi pengemis. Dan buat para pejabat - pejabat/ pengusaha - pengusaha, marilah kita lihat sosial kita disekitar, marilah kita bantu mereka untuk bisa menciptakan pekerjaan baru, membuat home industry kecil - kecilan yang dampaknya bisa mengurangi angka pengangguran, kemiskinan sehingga pengemis berkurang dan tidak ada lagi :D

Tulisan yang berkaitan...

703 Views

22 Upil yang betebaran untuk “Jalan hidup yang berbeda - beda…”

  1. nich Says:

    omak.. Ta, di sensor lah gambarnya.. alamak sial kali awak bah!

    terkait masalah pengemisnya sendiri, skarang status itu sudah berubah menjadi profesi (di beberapa kalangan tertentu).. jadi agak susah juga menentukan sikap setiap aku ngelihat pengemis.

    IMHO, bagiku lebih cepat memberikan uang kepada mereka yang melakukan sesuatu dengan berharap secuil pamrih, ketimbang kepada mereka yang cuma menengadahkan tangan..

  2. Eka Situmorang - Sir Says:

    Sebelum komen soal isi… mo komen soal upil…
    tiap kali mo komen… maaak gue jijik abiiis ngebayangin nambah2in upil biar bisa komen :D hahahaha

    soal pengemis… setiap manusia diberi talenta oleh Tuhan.. tergantung bagaimana kita menggunakannya.

    Ketika mereka memilih mengemis bahkan menjadikannya sbg profesi.. pastilah siap juga ketika ditanya di akhir hidup nanti alasan dibalik keputusan tersebut…

    salam, EKA

  3. sawali tuhusetya Says:

    mungkin memang ad apengemis yang berkarakter pemalas seperti itu, mas okta. bahkan, ada yang dikoordinir ala mafia. tapi tak sedikit juga pengemis yang memang benar2 dipaksa oleh keadaan sehingga mereka harus berbuat seperti itu.

  4. Wisata SEO Sadau Says:

    Wihh,,, gambar yang satunya ekstrim banget mas..
    upilnya keliatan
    wkk.wk.wk

  5. okta sihotang Says:

    @nich
    yakin kw kekgitu pra ?? ;))
    @eka
    benar bgt kakk :D
    @sawali
    mungkin keadaan itu yg dari sekarang harus bisa diubah mas :)
    @wisata SEO sadau
    jiakkaaaaaa, gede bgt upilnya =))

  6. Raffaell Says:

    Banyak yang stress ya okt…. yaa ini salah satu sample di Indo orang makin malas, lebih baek nadahin tangan daripada di transmigran ke hutan bikin ladang, hehe

  7. Edi Psw Says:

    Foto yang bawah itu koq nggak disensor mas!
    Hehehe…

  8. gajah_pesing Says:

    jalan hidupmu dan jalan hidupku memang jauh sangat berbeda, tiada yang dapat tahu…
    cuma yang aku herankan, kok ya sempet-sempetnya masang poto begituan, huahuahuahuahua….
    awas UU ITE lagi gencar-gencarnya…

  9. Wisata SEO Sadau Says:

    jalan hidup ini memang aneh,
    kita nikmati saja

  10. easy Says:

    aku setuju okta. aku sebal dengan pengemis yang berbadan sehat. ga seharusnya mereka malah meminta-minta seperti itu..

  11. okta sihotang Says:

    @Raffaell
    iya raff…sangat miris sekali memang..
    @Edi Psw
    aku juga copas dari link sebelah mas edi :D
    @gajah_pesing
    =))
    pemandangan yg jelek memang, tapi gambar itu aku ambil dari website salah satu pemerintahan daerah indonesia loh :P
    @Wisata SEO Sadau
    mariiiiiiiiiiiiiiiiiii ;))
    @easy
    benar bgt lies, jadi malah pengemis itu dijadikan sebagai pekerjaan orang malas…

  12. Chic Says:

    ish tumben Okta postingannya dasyat.. hihihihi

  13. wi3nd Says:

    iyah terkadan9 miris..
    tapi kadan9 menyebalkan jika yan9 berpura pura..
    pernah tau nda ta?
    didaerah jawa ten9ah ada kampun9 yan9 semuanya berprofesi seba9ai pen9emis and you know what ta?? rumah mreka tu ba9us ba9us.. jau dari pen9emis,bertolak belakan9 sekali…

    ya tapi aku palin9 nda te9a sama oran92 sepuh yan9 mene9adahkan tan9an :(

    tapi balik la9i ke diri kita klu mu kasih ya kasih klu nda ya suda..apapun yan9 mreka lakukan penipuan ituh urusannya den9an san9 pencipta,yan9 pentin9 niat baik kita memberi den9an “tulus” :)

  14. okta sihotang Says:

    @chic
    emang biasanya bgimana mbak ?? :P
    @wi3nd
    setuju bgt wi, kemarin aku juga pernah diceritakan teman ama aku, klo daerah jateng ada perkampungan yg pekerjaan mereka adalah sebagai pengemis, tapi rumah2 mereka bagus2..ada kulkas, dvd, tv, pokoknya bertolak belakang bgt deh :D

  15. nanzzzcy Says:

    yeah.. itulah hidup dan kehidupan..
    kadang2 buat miris tapi kadang2 juga nyebelin, apalagi kalo ngeliat org2 yg masih berbadan sehat tapi memilih profesi sebagai pengemis

    tapi..yah.. itu lah pilihan hidup mereka :)

  16. zee Says:

    Waakakakaaaa….. aduh Okta, mati ketawa aku liat gambar yg kedua. Ngeri kali bah..!

    Terpaksa skip dulu untuk komen…. nanti lanjut lagi bacanya… =))

  17. zee Says:

    Setuju Ta, memang mereka itu pd dasarnya mentalnya mental pemalas, biarpun bolak-balik ditangkapin, dikasih arahan, tetep aja begitu.
    Krn spt katamu td, ada yg turun temurun sekeluarga dan sekampung emg jd pengemis. Hbs gimana, ada juga yg ngasih mereka duit jd tetap gak akan pernah habis pengemis itu.

    Kalo mau ditindak, semua ditindak. Gepeng-2 ditangkap dan dirumahkan selama minimal 6bln utk pelatihan, kemudian mereka yg ketangkap memberi uang pada pengemis, harus didenda, minimal 1jt! Gak susah menegakkannya, asal serius. Buat satuan khusus polisi yang bertugas mendenda mereka yg ketahuan memberi uang pada pengemis. Pasang kamera di setiap2 sudut jalan dan halte atau jembatan penyeberangan, biar kalo ada petugas yg nakal lgsg ketauan. Denda jg harus lgsg diinput online, jadi setelah input, print, polisi tinggal kasih ke orangnya utk bayar ke pengadilan. Tidak mau bayar? Kan tercatat. Dalam setahun akan ditagih ke rumah atau lgsg cari ke bank :D. Mudah2an semuanya segera bisa online biar enak…

    **panjang kali komen aku ya… :)

  18. achoey Says:

    Kalau jalanmu ke Cibinong
    Mampir ke MJ! :D

  19. herusutomo Says:

    benar juga ya.Pengemis dan gelandangn tidak ada yang mengarahkan,malas,atau jiwa pengemis itu sendiri ya yang memang hobby nya

  20. Juliawan Says:

    hmm kadang-kadang gua juga berpikiran kayak u bro tapi artikel u kali ini bener2 menarik bro kadang-kadang mungkin gua liat salah pemerintah juga tidak memperhatikan mereka,kadang-kadang kesejahteraan itu gak merata gt jadinya ya kebanyakan dinikmati para koruptor gt bro

  21. Huang Says:

    Ini pilihan bukan?

  22. Saung Link Says:

    wuakakaka… itu turis lokal apa asing bos…

Tinggalkan Upilmu...