Masa paceklik…
Posted by oktasihotang on Monday 1 Mar 2010Yeah, just wanna share this picture (suggested to high speed connection) ![]()
Semoga hari ini sudah gajian.. i-)
Yeah, just wanna share this picture (suggested to high speed connection) ![]()
Semoga hari ini sudah gajian.. i-)
Yes, mungkin ini adalah short new post untuk oktasihotang weblog, maklum saudara-saudara, belakangan ini okta sihotang lagi ada kesibukan baru, seperti jadi tukang bakso keliling komplek, kadang merambah ke kuli bangunan (semua gak ada yg benar).
Nah, mumpung ada waktu sebentar dan mumpung ada koneksi internet, aku mencoba menghapus beberapa account oktasihotang di beberapa microblogging dan email. Yaitu :
Yah…akunku di plurk.com sudah aku hapus, kenapa Ta ?? Ini sengaja aku hapus karna udah malas login di plurk, disamping sistemnya menggunakan full jquery/ajax sehingga saat membuka websitenya harus benar-benar memiliki internet high speed connection saat me-load page website plurk.com pertama kali, disamping itu juga, interface plurk ribet dan kurang friendly bagiku sehingga kadang dalam 1 bulan hanya 1-2 x login, selebihnya gak ada sehingga karma naik turun dan kebanyakan turunnya bila dibandingkan naiknya…
Well, akun email plasa ku juga aku hapus, kenapa ?, jelas karna plasa.com juga terkadang lambat dibuka, terkadang juga error, kemudian loading page-nya juga lambat dan masih menggunakan konvensional email application (1 email 1 baris), beda dengan email gmail dan yahoo yang mana sudah mengandalkan jquery/ajax technology.
Sekedar masukan untuk web developer plasa.com :
a. Sepertinya bandwidthnya harus digedein lagi untuk plasa.com (aksesnya jadi lama)
b. Untuk aplikasi emailnya, sepertinya harus mencoba pendekatan seperti aplikasi email di gmail dan yahoo biar makin mantap
Oke, sampai detik ini, 2 akun ku di dunia maya sudah aku hapus directly, dan berikut list akun oktasihotang yg masih exist di dunia maya :
1. Facebook
2. Twitter
3. dan beberapa di media online lain (kaskus, wordpress, dll)
-00-
Hmnnn, ada yang numpang iklan neh kawan - kawan :
2. Jualan buku super murah, silahkan cekedot di http://www.kaskus.us/showthread.php?t=3439328
Oke silahkan cekedot di link-link yang aku kasih diatas yaks, wacaaaaaao ![]()
Kata orang sih dibulan februari ini adalah bulan yang akan penuh dengan kasih sayang, cinta, sayang-sayangan dan segala macam jenisnya, hmnnn..menurut aku pribadi sih tetap saja back to UPIL, heheeee..
-00-
Hidup di kota besar itu ternyata banyak tidak enaknya, mungkin banyak orang berpikiran bahwa hidup dikota besar itu enak, bisa ini, bisa itu, banyak peluang (peluang ngecopet, peluang lirik anak orang, peluang cari musuh, dsb). Tapi menurut akal sehatku, orang yang berpikiran seperti yang aku maksud tadi, pasti pas dia baru lahir dari kandungan ibunya, dia sudah memiliki dan menikmati fasilitas yang dimiliki orang tuanya, berada dalam keluarga berkecukupan dan pasti dia belum pernah merasakan bagaimana susahnya mencari UPIL.
Yes, aku mau bincang-bincang pengalaman hidup dikota besar, dan aku bukan mau bicara gak jelas ngalur ngidul, tapi ingin berbincang masalah yang spesifik tertentu saja, yaitu : KEMACETAN DI KOTA BESAR

kondisi macet dikota besar #1

kondisi macet dikota besar #2
-00-
Sudah lihat 2 gambar diatas itu tidak ??, perhatikan baik-baik, gambar diatas adalah gambar suasana pasar tradisional, pedesaan macet di perkotaan. Tidak sedikit orang mengeluh mengenai macet ini, dan tidak banyak juga orang yang menyenangi macet ini.
Nah, solusi untuk mengatasi masalah macet ini bagaimana okta ?? hmmnnn, sepertinya Undang-undang harus direvisi ![]()
Ada beberapa point mengenai hal ini :
Kenapa aku buat masalah ini di point pertama ?, ya..karna sejauh mataku memandang jika bepergian ke lokasi perumahan dikota besar, banyak sekali rumah tangga yang memiliki kendaraan roda empat lebih dari 2 buah, belum lagi kendaraan roda duanya, sampai-sampai garasi rumah sampai halaman rumahnya tidak muat menampung semua kendaraan yang dimilikinya, so..bisa dibayangi jika nyaris 20% saja dari keseluruhan rumah tangga yang ada di kota besar seperti itu, kemacetan pasti tidak terelak lagi.
Hmnn… program ini aku sangat setuju sekali dan sangat welcome bahkan akan menerapkannya jika para biker di kota besar dikasih sarana untuk bersepeda di jalan, ada parkiran sepeda di kantor-kantor dan jika pemerintah benar-benar support program ini sehingga mau nya biker-biker merasa nyaman bersepeda di jalan raya.
Untuk point ini, jika ada undang - undang di Indonesia bahwa tiap-tiap keluarga harus punya anak maksimal misalkan 3 orang, pasti tidak akan terjadi masalah sosial seperti kemiskinan, kelaparan, maraknya anak jalanan dan kehidupan sosial lainnya. Jadi sepasang suami istri tidak dengan seenak UPIL nya melakukan reproduksi (’cetak-mencetak’), apalagi jika ekonominya minim anaknya sampai kesebelasan gitu, gilaaaaaaaaaaaaaak.
Well, seandainya semua masyarakat baik dikota besar maupun dipedesaan sadar betul akan dampak yang akan terjadi jika seandainya melakukan ini, itu, memiliki banyak kendaraan, memiliki banyak anak, dsb. Pasti masalah sosial yang aku sebutin diatas minim terjadi. Mari kita ciptakan lingkungan damai, bersih dan sehat, saling menghormati sesama, saling menjaga perasaan orang sekitar (jangan memamerkan apa yang dimilikinya secara lebay), pasti kehidupan sosial kita akan tercipta dengan baik. -nhf-
Hmnnn…Negara Indonesia tidak perah lepas dari yang namanya MASALAH SOSIAL, belum lagi kelar masalah century, udah datang masalah penulis george tentang GURITA CIKEAS, udah datang lagi masalah antasari azhar yang dengar-dengar di vonis hukuman mati, udah datang lagi masalah si Baikuni alias babe sang sodomi mayat dan tukang jagal, udah datang lagi masalah sindikat pembobol uang lewat ATM, eh.. sekarang ini masalah yang sedang-sedang hot nya mengenai anak jalanan.
Mengenai anak jalanan ini, memang sudah sebuah realita yang lama sekali terjadi sampai sekarang, menurut akal sehatku, ini terjadi jelas-jelas karna faktor KEMALASAN YANG TURUN TEMURUN, alasannya :
-00-
Lihatlah jeleknya potret anak-anak jalanan dibawah ini :

Inilah akibat hilangnya tanggung jawab dari orang tua

dan anak-anakpun dijadikan objek eksploitasi pencari nafkah oleh oknum-oknum tidak jelas termasuk orang tuanya sendiri

akibatnya terkesan menjadi sampah masyarakat dan jeleknya suasana kota karena anak jalanan